Kota Malang: inspirasi dari jejak sejarah ✅
Kota Malang, terletak di Provinsi Jawa Timur, adalah salah satu kota yang kaya akan sejarah dan budaya. Keberadaan Malang dapat di telusuri hingga zaman kerajaan Jawa kuno. Sejarah awal Malang di perkirakan dimulai pada abad ke-8 Masehi, ketika wilayah ini merupakan bagian dari Kerajaan Kanjuruhan yang berpusat di wilayah Malang dan sekitarnya.
Sejarah Kota Malang berawal dari Kerajaan Kanjuruhan (abad ke-8 M) di bawah Raja Gajayana, lalu masuk Kerajaan Singhasari dan Majapahit, sebelum menjadi pusat administrasi kolonial Belanda sejak abad ke-19 dengan penetapan resmi sebagai Kotapraja (1 April 1914). Masa kolonial membawa pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan pesat, kemudian berlanjut menjadi kota pendidikan, wisata, serta pusat ekonomi kreatif yang dikenal dengan julukan “Kota Apel” dan “Kota Pendidikan”.

Masa Kerajaan (Sebelum 1800-an)
Pada masa pemerintahan Raja Gajayana dari Kerajaan Kanjuruhan, Malang di kenal sebagai pusat perdagangan dan budaya. Bukti-bukti arkeologis, seperti prasasti dan candi, menunjukkan bahwa Malang merupakan kota penting dalam jaringan perdagangan dan kebudayaan di Jawa Timur.
Pada abad ke-13, Malang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Singhasari, yang di kenal dengan pusat kekuasaannya di Trowulan. Singhasari merupakan kerajaan besar yang memengaruhi banyak daerah di Jawa Timur, termasuk Malang.
Setelah Singhasari runtuh, Malang kemudian menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit, yang di kenal sebagai salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara.

gambar: Candi Singhasari (Singosari)
Masa Kolonial Belanda (dimulai 1767)
Perubahan besar terjadi pada abad ke-19 ketika Malang menjadi bagian dari pemerintah kolonial Belanda.
Malang berkembang pesat selama masa penjajahan Belanda, terutama sebagai pusat perdagangan dan administrasi. Belanda membangun infrastruktur seperti jalan raya dan fasilitas umum yang turut mempercepat pertumbuhan kota ini.
Pada tahun 1767, VOC atau Vereenidge Oostindische Compagnie menguasai wilayah malang. Kemudian pada tahun 1821, kedudukan pemerintahan Belanda di Malang berpusat di sekitar Kali Brantas.
Empat tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1824, Malang memiliki asisten residen dan tahun 1882 rumah-rumah di bagian barat kota didirikan serta alun-alun dibangun.
Pada 1 April tahun 1914, Malang ditetapkan sebagai Kotapraja atau Gemeente. Setelah itu, pada 1 Juli 1919, H. I. Buusemaker menjadi wakilota pertama Malang.
Kota Malang pada saat itu dijuluki Switzerland van Java karena keindahan alamnya 🌿, yang dikelilingi gunung-gunung megah seperti Arjuno, Kawi, Semeru, dan Bromo. Selain itu, Malang juga mempunyai udara yang sejuk dan tata kota yang rapi.
Julukan ini diberikan atas kondisi alam Kota Malang yang indah dan membuat betah siapapun yang berkunjung ke kota ini. Julukan tersebut kini berganti dan disandang Kabupaten Garut, Jawa Barat yaitu Swiss Van Java.
Masa pendudukan jepang (1942)
Tahun 1942 menandai berakhirnya era kolonial Belanda di Malang dan dimulainya periode pendudukan Jepang yang penuh gejolak.
Kota Malang diduduki oleh Jepang pada 8 Maret 1942, setelah memukul Belanda keluar Indonesia. Masuknya Tentara Kekaisaran Jepang dan memulai masa pendudukannya, ditandai penyerahan tanpa syarat kepada otoritas militer Jepang oleh pemerintah daerah yang pada saat itu dipimpin oleh Bupati Raden Adipati Ario Sam (RAA Sam).
Jepang segera mengganti sistem administrasi kolonial Belanda dengan pemerintahan militer untuk mendukung upaya perang mereka di Asia Pasifik.
Kondisi Kota & Sosial pada masa itu berubah drastis. Alhasil, Institusi pendidikan seperti H.B.S. dan A.M.S. Malang yang telah berdiri sejak 1927 resmi ditutup pada tahun ini akibat pergantian kekuasaan. Dan pada periode ini menjadi awal dari masa sulit bagi warga lokal. Penimbunan barang dan kontrol ketat terhadap sumber daya (seperti hasil perkebunan kopi dan gula yang sebelumnya dominan) mulai terjadi untuk kepentingan militer Jepang.
Beberapa peninggalan dari masa ini masih dapat ditemukan, termasuk Gua Jepang di beberapa titik wilayah Malang dan bekas Kuil Chiang Nan yang menjadi bukti kehadiran budaya Jepang saat itu.
Masa Kemerdekaan (1945 – Sekarang)
Setelah Jepang kalah pada 1945 dan menandakan selesainya masa pendudukan Jepang, Malang kembali memasuki periode Revolusi. Belanda berupaya merebut kembali kendali melalui Agresi Militer.
gambar: perempatan Lafayette (Kayutangan) 1947 –
©pusakaindonesia.perpusnas.go.id/pusakaindonesia.perpusnas.go.id

Sekitar tanggal 22 Juli 1947, tentara Belanda berada di wilayah Lawang, Kabupaten Malang bergerak menuju ke tengah Kota. Masyarakat Malang pun bergerak membakar dengan taktik bumi hangus yang dahsyat pada 23 Juli 1947. Sekitar seribu bangunan di Malang dibakar guna menghambat pergerakan tentara Belanda menduduki Malang. Meski sudah dibumihanguskan, Belanda akhirnya berhasil menduduki Kota Malang secara fisik pada 31 Juli 1947.
Setelah pendudukan Belanda, perlawanan tidak berhenti. Muncul unit-unit perjuangan seperti Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) yang melakukan pertempuran besar di Jalan Ijen dan area lainnya untuk mempertahankan kemerdekaan.
Salah satu tokoh sentral dalam perlawanan rakyat Malang melawan kembalinya Belanda adalah Mayor (Anumerta) Hamid Rusdi. Beliau memimpin pasukan gerilya di wilayah Malang Selatan, termasuk Tajinan hingga pegunungan Buring, selama masa Agresi Militer Belanda, termasuk menginstruksikan pembakaran fasilitas penting di Kota Malang pada Juli 1947 guna memastikan infrastruktur tersebut tidak dapat digunakan oleh Belanda saat mereka masuk.
Beliau juga pencetus Bahasa Walikan (kiwalan) atau bahasa yang terbalik, sebagai sandi komunikasi rahasia antar pejuang agar strategi mereka tidak bocor kepada intelijen Belanda (NICA) yang fasih berbahasa Jawa dan Indonesia.
Kota Malang kembali masuk ke pemerintahan Indonesia setelah kedaulatan Republik Indonesia diakui sepenuhnya pada Konferensi Meja Bundar (KMB) pada akhir tahun 1949 dan sekaligus menandakan memasuki periode peralihan kekuasaan kepada Pemerintah Republik Indonesia.
Pasca 27 Desember 1949, kekuasaan di Malang secara resmi beralih dari tangan Belanda (termasuk pasukan KNIL) ke pangkuan Republik Indonesia Serikat (RIS). Pasukan Belanda secara bertahap meninggalkan kota, mengakhiri pertempuran langsung. Pada masa transisi ini masih diwarnai ketegangan. Tercatat adanya peristiwa “Maret Berdarah” pada Maret 1949, di mana terjadi pembantaian oleh KNIL, yang meninggalkan luka trauma bagi warga Malang hingga pasca 1949.
Setelah tahun 1949, Malang mulai fokus pada penataan demografi, sosial budaya, dan ekonomi pasca-revolusi. Malang memasuki periode “rekonsiliasi” dan pembangunan kembali (rekonstruksi) dan perlahan kembali tumbuh sebagai kota pendidikan dan pusat pemerintahan wilayah Jawa Timur.
Pada tahun 1950, berdasarkan UU Nomor 16 Tahun 1950, Kota Malang ditetapkan sebagai Kota Besar (Kotamadya) yang berhak mengatur rumah tangganya sendiri. Secara administratif, ini adalah transisi dari sistem kotapraja kolonial ke kotapraja Indonesia. Sidang Paripurna DPR Gotong Royong Kota Praja Malang ini juga menyatakan bahwa Kota Malang diarahkan menjadi kota pelajar atau pendidikan, pariwisata, dan kota industri.
Hari ini, Kota Malang di kenal sebagai kota yang memiliki warisan budaya yang kaya dan menjadi destinasi wisata menarik. Sejarah panjangnya, dari kerajaan kuno hingga era kolonial, memberikan kontribusi besar terhadap karakter dan identitas Malang sebagai kota yang penuh pesona dan cerita.

