galleryNesia.

berani baca.berani tahu


Misi Tembus Pasar Internasional, 4000 UMKM di Kota Malang Harus Naik Kelas pada 2026

“Image credits: Respective owners/Internet. Several images in this post are sourced from the internet. All rights belong to their respective original owners © All rights remain with the original creators. No copyright infringement intended.”

SURYAMALANG.COM, Tayang: Senin, 2 Februari 2026 20:22 WIB.

Pemkot Malang melalui Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang memasang target peningkatan 10 persen pelaku UMKM naik kelas pada 2026.

Kepala Diskopindag Kota Malang, Eko Sri Yuliadi menerangkan, pendampingan dan penguatan branding adalah cara untuk membantu UMKM naik kelas.

Saat ini, Diskopindag mencatat ada 40 ribu UMKM di Kota Malang. Jika 10 persennya ditargetkan naik kelas, maka ada 4.000 UMKM. Target yang dicanangkan pada 2026 ini tidak jauh berbeda dari target tahun sebelumnya.

Selain itu, tim pendamping juga diminta lebih detail dalam memberikan materi pelatihan, seperti mengenai pengemasan produk dan pemasaran.

Penguatan ini dilakukan karena pada 2025 jumlah UMKM yang naik kelas tidak memenuhi target.

Misi Tembus Pasar Internasional ~

Eko menerangkan, UMKM masuk kategori naik kelas jika mengalami peningkatan omzet tahunan, memiliki legalitas, dan peningkatan kualitas produk.

Penguatan langkah pendampingan juga ditujukan agar semakin produk milik pelaku UMKM dari Kota Malang bisa menembus pasar ekspor, terutama ke tiga negara, yakni Uni Emirat Arab, Malaysia, dan Selandia Baru.

Hingga 2025 total sudah ada 95 UMKM yang produknya mampu menembus pasar global dan mayoritas komoditas adalah keripik dari hasil olahan tempe.

Sedang pada 2026, ditargetkan produk yang ekspor bisa meningkat 50 persen.

Sementara salah satu pelaku UMKM, Susy Kurnia, berpendapat Pemerintah Kota Malang sangat perlu membangun satu pasar khusus yang menjual produk UMKM.

Menurutnya, persoalan utama pelaku UMKM saat ini bukan hanya produksi, tetapi juga pemasaran.

Ia juga mengatakan, pernah mencoba memasarkan produk lewat media sosial dengan akun besar di Kota Malang, namun harus membayar.

Sementara banyak pelaku UMKM kecil tidak punya modal cukup untuk promosi.

Di Kelurahan Karangbesuki, tempat Susy ikut membina UMKM dikatakan banyak yang akhirnya mencari jalur pemasaran sendiri, dengan door to door atau analog.

Meski Pemkot Malang sering memfasilitasi pelatihan dan pendampingan, tetapi dampaknya dirasakan belum terasa signifikan.

Susy berpendapat, seharusnya Kota Malang bisa mencontoh Jakarta yang memiliki Pekan Raya Jakarta (PRJ) dan pasar kreativitas yang menampung banyak UMKM.

Karena itu, ia berharap Pemerintah Kota Malang bisa menghadirkan satu pasar UMKM di lokasi strategis dan mudah dijangkau, agar produk-produk lokal bisa dikenal lebih luas dan benar-benar berdampak pada peningkatan pendapatan pelaku usaha kecil.

Penulis: Benni Indo | Editor: Eko Darmoko – SURYAMALANG.COM

.Diolah dari berbagai sumber | Adapted and reworked from different sources ☑️

Tags