galleryNesia.

berani baca.berani tahu


Timur Tengah Dalam Pusaran Konflik Geopolitik

“Image credits: Respective owners/Internet. Several images in this post are sourced from the internet. All rights belong to their respective original owners © All rights remain with the original creators. No copyright infringement intended.”

– Ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah terus memicu volatilitas pasar global

Red. Kawasan Timur Tengah kembali menjadi pusat ketegangan geopolitik global, di mana persaingan kekuatan besar saling bertabrakan dengan konflik lokal yang membara.

Semua, mungkin bermuara setelah runtuhnya Kekaisaran Ottoman yang memicu ketidakstabilan serta penemuan cadangan minyak yang sangat besar di kawasan Teluk Persia, di mana perebutan kendali atas cadangan tersebut telah menjadi salah satu faktor pemicu dalam beberapa konflik di kawasan tersebut

Ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah terus memicu volatilitas pasar global, yang pada gilirannya mendorong kenaikan biaya hidup dan harga energi di seluruh kawasan Asia yang sedang berkembang. Kawasan tersebut masih terjebak dalam konflik-konflik proxy yang berisiko tinggi, dengan pertempuran yang terus berlanjut dan krisis tata kelola di Gaza, Lebanon, Suriah, dan Yaman.

Dari Laut Merah hingga perbatasan Israel-Suriah, serangkaian insiden militer dan diplomasi gagal telah memperburuk situasi, menyeret negara-negara seperti Iran, Israel, Arab Saudi, dan Turki ke dalam pusaran perang proksi yang tak kunjung reda. Laporan terbaru dari PBB menunjukkan peningkatan 40 persen dalam jumlah serangan rudal sejak awal 2026, mengancam stabilitas energi dunia.

Pusaran Konflik Di Dalam Konflik

Konflik Israel-Hamas di Gaza tetap menjadi pemicu utama, dengan gencatan senjata yang rapuh sejak akhir 2025 kini runtuh akibat serangan roket dari kelompok militan di Lebanon. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan operasi darat baru di selatan Lebanon pada Jumat lalu, menewaskan puluhan pejuang Hizbullah. “Keamanan Israel tidak bisa ditawar,” tegas Netanyahu dalam pidato di Yerusalem, sementara Sekjen PBB Antonio Guterres memperingatkan risiko perang regional yang lebih luas.

Iran, sebagai pendukung utama “Poros Perlawanan” yang mencakup Hizbullah dan Houthi Yaman, merespons dengan peluncuran drone ke arah pangkalan militer AS di Irak. Korps Garda Revolusi Iran mengklaim serangan itu sebagai pembalasan atas pembunuhan komandan senior mereka bulan lalu. Analis dari Institut Studi Keamanan Timur Tengah di Doha menyatakan bahwa Tehran semakin agresif untuk menguji batas kesabaran Washington di bawah pemerintahan Biden yang akan berakhir.

Di sisi lain, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memperkuat aliansi dengan Israel melalui Abraham Accords, meski secara diam-diam menjaga hubungan dengan Iran untuk menstabilkan harga minyak. Raja Salman bin Abdulaziz menggelar pertemuan darurat dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Riyadh minggu ini, membahas pengurangan pengaruh kelompok militan di Suriah. “Kami tidak ingin Timur Tengah menjadi medan perang superpower,” ujar juru bicara kerajaan Saudi.

Situasi geopolitik di Timur Tengah kini telah bergeser dari konflik antarnegara menuju perebutan kendali atas negara. Kemunduran rezim Suriah yang berkuasa dan melemahnya jaringan proxy Iran tidak justru mendorong terciptanya perdamaian regional, melainkan menciptakan lingkungan yang lebih terfragmentasi dan rentan. (www.specialeurasia.com/2025/12/28/middle-east-risk-2026)

Risiko utamanya adalah potensi terjadinya “Fase 2” dari konflik Israel-Iran, yang menurut penilaian kami sangat mungkin terjadi mengingat narasi, strategi militer, dan kebijakan luar negeri Tel Aviv dan Teheran.

Turki, dengan ambisi neo-Ottoman-nya, terus mendominasi utara Suriah melalui operasi militer melawan Kurdi yang didukung AS. Presiden Erdogan menuduh Washington melindungi “teroris PKK”, sementara pasukannya merebut kota strategis Manbij. Konflik ini mempersulit upaya AS untuk menarik pasukan dari kawasan, di mana 900 tentara Amerika masih ditempatkan untuk melawan sisa-sisa ISIS.

Yaman menjadi front lain yang memanas, dengan Houthi melanjutkan serangan terhadap kapal kargo di Laut Merah sebagai solidaritas dengan Palestina. Koalisi pimpinan Saudi melaporkan 15 serangan dalam sebulan terakhir, mengganggu 12 persen perdagangan global melalui Terusan Suez. Organisasi Kesehatan Dunia mencatat 20 ribu korban sipil di Yaman sejak 2025, menjadikannya salah satu krisis kemanusiaan terburuk.

Pengaruh Rusia Dan Cina

Rusia dan China memanfaatkan kekacauan ini untuk memperluas pengaruh. Moskow menyediakan senjata canggih ke Suriah di bawah Bashar al-Assad, sementara Beijing mengamankan kesepakatan minyak senilai miliaran dolar dengan Iran. “Timur Tengah bukan lagi halaman belakang Barat,” kata Dmitry Peskov, juru bicara Kremlin, menegaskan pergeseran multipolar.

Timur Tengah memasuki tahun 2026 dalam kondisi penataan ulang yang melelahkan. Runtuhnya rezim Al Assad pada Desember 2024, diikuti oleh naiknya Ahmed al-Sharaa ke tampuk kekuasaan di Damaskus, serta perang selama 12 hari antara Tel Aviv dan Teheran menjadi ciri khas tahun 2025.

timur tengah
Pemberontak Suriah mengumumkan berakhirnya kekuasaan Presiden Bashar Al Assad pada Minggu (8/12/2024), Kompas.

Dampak ekonomi global tak terelakkan: harga minyak Brent melonjak ke 95 dolar per barel, memicu inflasi di Eropa dan Asia. Para diplomat di Doha dan Vienna berupaya meredakan ketegangan melalui pembicaraan nuklir Iran, tapi kemajuan minim. Pakar dari Council on Foreign Relations memprediksi eskalasi lebih lanjut jika AS tidak campur tangan secara tegas.

Di tengah badai geopolitik, suara rakyat Timur Tengah semakin terdengar. Demonstrasi massal di Beirut, Bagdad, dan Amman menuntut perdamaian dan reformasi, menantang elit penguasa. Apakah kawasan ini akan jatuh ke jurang perang total atau menemukan jalan diplomasi, dunia menunggu dengan was-was.


.Diolah dari berbagai sumber | Adapted and reworked from different sources ☑️

Tags