Korupsi di Indonesia ibarat penyakit kronis yang sudah lama bercokol, tapi anehnya selalu diperlakukan seperti flu musiman. Setiap kali ada kasus besar, publik ribut, media heboh, pejabat berjanji akan “memberantas sampai ke akar-akarnya.” Namun, akar yang dimaksud rupanya bukan di tanah, melainkan di pot bunga yang bisa dipindah-pindah sesuka hati. Hasilnya, janji tinggal janji, sementara praktiknya tetap lestari, bahkan makin subur.
Para koruptor di negeri ini sering tampil unik, bak pahlawan kesiangan. Mereka yang tertangkap, tersenyum di depan kamera, tanpa rasa bersalah, tanpa rasa malu dengan mengenakan seragam “kebesaran” berwarna oranye KPK. Mereka adalah yang dulu berbicara tentang “pengabdian pada rakyat.” Ironisnya, pengabdian itu lebih sering berupa pengabdian pada rekening pribadi. Rakyat hanya kebagian slogan, sementara mereka kebagian proyek, fasilitas, dan tentu saja amplop tebal. Dan lucunya, seolah-olah mencuri uang negara adalah bagian dari job description.
Yang lebih menggelikan, hukuman bagi koruptor sering terasa seperti liburan panjang. Penjara berubah jadi hotel dengan fasilitas khusus, remisi datang lebih cepat daripada gaji pegawai, dan beberapa bahkan masih bisa berbisnis dari balik jeruji. Publik pun bertanya-tanya: apakah penjara di Indonesia memang dirancang sebagai coworking space bagi para koruptor?
Pada akhirnya, korupsi di Indonesia bukan sekadar kejahatan, melainkan budaya yang diwariskan turun-temurun. Ia seperti warisan keluarga: dari bapak ke anak, dari pejabat ke kroni, dari proyek ke proyek. Dan selama rakyat hanya diberi tontonan drama penangkapan tanpa babak akhir yang tegas, korupsi akan terus menjadi komedi gelap yang dipentaskan di panggung politik negeri ini..
Oalah diamput … 😁

