Bayangkan sebuah rumah yang lahir dari semangat kemerdekaan, mencampur warisan Belanda dengan cita rasa lokal Indonesia. Itulah Rumah Jengki, ikon arsitektur era 1950-an yang sempat menggoyang dominasi gaya kolonial. Di tengah euforia pasca-proklamasi 1945, para arsitek muda seperti Sjoerd Soeterbroek dan Henk Ng mulai bereksperimen, menantang atap pelana kaku Belanda dengan desain segar yang lebih tropis.
Rumah Jengki—dari kata “jongkie”, panggilan akrab untuk pemuda Belanda—muncul di Bandung dan Jakarta sebagai respons terhadap iklim panas lembab Nusantara. Berbeda dengan rumah kolonial yang tertutup rapat, Jengki membuka lebar pintu geser kaca dan jendela besar untuk sirkulasi udara alami. Dindingnya ringan dari bata ringan atau kayu, jauh dari beton tebal ala Eropa yang bikin pengap.

Ciri khasnya? Atap datar atau miring rendah dengan overhang lebar untuk teduh dari matahari tropis, plus elemen horizontal seperti lis pagar dan talang air yang playful. Warna cerah—kuning, biru, merah—menghiasi fasad, mencerminkan semangat muda yang anti-kaku. Ini bukan sekadar rumah, tapi pernyataan: Indonesia mandiri, bahkan dalam desain!
Di Bandung, kawasan Dago Elos jadi surga Jengki, di mana rumah-rumah ini berdiri gagah dengan taman depan hijau dan garasi terbuka. Arsitek seminal seperti Fried Samran (ahli lokal) memadukan elemen Jawa seperti serambi rumah joglo, membuatnya terasa hybrid: modern tapi berakar budaya. Tak heran, rumah ini populer di kalangan elite muda pasca-kemerdekaan.
Yang menantang kolonial? Jengki tolak ornamen rumit Belanda seperti pilar Ionik atau lengkungan gothic. Sebaliknya, garis lurus modern ala Le Corbusier diadaptasi untuk iklim lokal—tanpa AC, tentu saja! Ini revolusi diam-diam: dari istana gubernur megah jadi rumah sederhana yang fungsional, simbol gotong royong era Soekarno.
Sayangnya, banyak Rumah Jengki hilang ditelan pembangunan kota. Contoh di kota Jakarta sendiri, hanya segelintir bertahan di Menteng atau Kebayoran Baru, sering direvitalisasi jadi kafe atau co-working space. Pemerintah melalui Kementerian PUPR kini dorong pelestarian via program “Arsitektur Nusantara”, tapi tantangannya besar: renovasi mahal dan selera modern condong ke minimalis.
BBC Indonesia sendiri pernah mengangkat artikel rumah Jengki ini tahun 2018 lalu(archive BBC). Di artikel tersebut disebutkan, trend “Retro” yang didengungkan oleh “young Hipster” atau kaum muda saat ini dan menyukai gaya “rebel”, termasuk rumah dan perabot serta interior rumah Jengki kini mulai kembali di lirik.
Contoh kebangkitan gaya arsitektur Jengki saat ini, dapat dilihat lewat arsitek kontemporer lokal seperti Realrich Sjarief, yang remix gayanya untuk rumah tropis modern. Di Bali atau Yogyakarta, varian neo-Jengki muncul dengan panel surya dan material ramah lingkungan. Ini bukti: arsitektur Indonesia tak pernah statis, selalu berevolusi.
Mengunjungi Rumah Jengki seperti time travel ke masa optimisme bangsa. Duduk di terasnya, hembusan angin sepoi mengingatkan bahwa desain hebat lahir dari adaptasi hebat arsitek Indonesia, bukan impor mentah. Di era iklim krisis sekarang, pelajaran Jengki sangat relevan: membangun rumah yang bernapas bersama alam.

